Kombas #2 – Untungnya hidup kudus

Salah satu mukjizat yang saya rasakan dalam hidup ini dimulai pada saat saya bilang di hati saya bahwa “I want a new start” – coba tinggalin dosa favorit. Beberapa lama setelah itu (mungkin kira2 sebulan), saya merasa apa yang orang bilang di jamah Roh Kudus. Sampai sekarang hampir 19 tahun berikut nya pengalaman ini tidak pernah saya lupakan.

Q1. Apakah kamu sudah kudus? Menurut kamu apa untungnya hidup yang kudus?

Pernah kah kamu ketika mau nge-charge HP, colokan listrik dan HP sudah masing-masing tercolok dengan benar, tapi ternyata HP nya tidak nge-charge? Eh ternyata karena sambungan USB kabel nya lupa tercolok.

Daya HP ngga bertambah karena listrik nya ngga ada meskipun colokannya sudah benar. 

Ketika kita nga hidup kudus, atau cuma berpura-pura kudus (karena colokannya sudah ada), hidup kita ngga maju-maju karena tanpa kekudusan tidak ada mukjizat.

Berikut ini penjelasannya.

a. Kamu sudah kudus

Kudus itu bukan hanya menjadi orang yang bener. Kudus berarti dipisahkan. Keren bukan? Tuhan itu kudus dan dia mau kita sama dengan Dia (1 Petrus 1:16) secara ekslusif atau istilah lainnya “khusus untuk Dia”. Jadi ketika kita sudah diselamatkan, kita sudah dikuduskan (yaitu dengan Firman Tuhan – Yoh 15:3, Darah Yesus – Ibrani 10:19 dan 1 Yoh 1:7 dan Roh Kudus – Ef 1: 13-14) namun kita punya tugas untuk tetap memilih Dia dengan cara: rela terpisah dengan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Kudus berarti memilih untuk say “no” dari yang jelek.

Perbuatan baik dan kesalehan atau perbuatan dosa kita tidak bisa menambah atau mengurangi kudus nya Tuhan dan tentunya Firman Tuhan, Darah Yesus, dan Roh Kudus yang ada di dalam kita untuk menguduskan kita. Jadi adalah salah jika kita menjadi “sok rohani” atau “merasa kudus” oleh karena apa yang kita perbuat (rajin berpuasa, rajin beribadah, dll). Mengapa? Sebagus-bagusnya kesalehan manusia, buat Tuhan mah masih kayak kain kotor (Yesaya 64:6). Bahkan orang yang dibilang “sangat menyedihkan” / “woe to you” adalah orang-orang Farisi dimana mereka yang dianggap orang paling saleh pada saat itu. Mengapa? Karena mereka munafik dan tentu nya bukan kudus di mata Tuhan.

1 Petrus 2:9
Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.

b. Tanpa kekudusan tidak ada mukjizat

Meskipun kita kudus karena 3 hal di atas kita harus menolak hal yang tidak berkenan dengan Tuhan. 

Ibrani 12:14 menyatakan “Kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan”.

Sering kita merenung kenapa hidup saya jalan di tempat. Padahal cerita-cerita di Injil dikatakan pada saat mereka percaya dan bersama Yesus, selalu ada mukjizat. Tanpa mengejar kekudusan, kehidupan kita di klaim oleh masalah itu sendiri. Dengan kekudusan, Tuhan kita ijinkan mengklaim bagian dari hidup kita tersebut. Mukjizat hanya tinggal masalah waktu.

Mari kita lihat ada bagian apa dari hidup kita yang masih abu-abu atau hitam, mari kita minta ampun dan tinggalkan itu. Mulai dari pikiran, perkataan, kegiatan seksual, judi, penipuan, bohong, selingkuh, pornografi, gosip, menghakimi, dan lain sebagainya. Tanpa kekudusan kita tidak akan melihat Tuhan, apalagi mukjizat nya dalam hidup kita.

c. Hidup kudus karena menghargai pengorbanan Tuhan

Bukan hanya karena kita mau mendapat mukjizat, kekudusan kita kejar sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan. Ongkos supaya kita bisa kudus adalah kematian Tuhan. Di bahan kombas #1 – kekudusan merupakan level ke enam dan itu proses (2 Petrus 1:5)

Yoh 16:7 “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”

Di ayat ini dikatakan, ongkos Roh Allah yang adalah jaminan hidup kekal kita adalah kepergian Yesus, yaitu maksudnya kematian Dia di kayu salib. Apa dengan pemahaman ini kita masih bisa complain.. Susah hidup kudus? Ntar dulu deh..

Yang ada adalah tidak layak kita balas air susu dengan air tuba dan kebangetan kalo kita masih membenarkan diri untuk hidup di area abu-abu atau dalam dosa.

Q2. Coba share kan pengalaman kamu setelah meninggalkan dosa apa yang terjadi? Apa hal-hal yang masih menjadi point untuk kamu tinggalkan?

Akhir kata 19 tahun kemudian saya pun banyak mengalami naik dan turun. Dan saya bisa share pada saat saya tidak kompromi mukjizat mulai terjadi. Seakan-akan hidup kita dibenahi satu persatu sejak kita serius bilang Enough is Enough. Jangan hidup tanggung.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s