# Komsel 1 – Pengendalian Diri

Paus Francis dalam pidato TED nya menyatakan jika seseorang berkuasa – di sana diperlukan sikap melayani dan lembah lembut (menit 15.50). Di Argentina, ada istilah kekuasaan memabukkan karena Anda tidak seperti diri sendiri. Jika kita tidak “menguasai diri”, gampang sekali kita melukai diri sendiri dan orang lain.

 

 

Jika kita dalam posisi lemah, mudah kita pasrah dan “terpaksa” menjadi orang yang baik. Namun, godaan muncul ketika lagi ada tantangan – apakah kita tetap bisa “stabil”. Apalagi, godaan sebenarnya adalah ketika kita dalam posisi diberkati, keadaan melimpah, dan memiliki kekuasaan. Bisakah kita tetap menguasai diri untuk menjadi orang yang baik.

Q1. Dalam hal apa kamu merasa gagal dalam penguasaan diri?

Galatia 5:22-23

Tetapi buah Roh  ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Q2. Kenapa menurut kamu, kita perlu menguasai diri?

Dalam 2 Petrus 1: 3-11, kita ditantang untuk naik level. Setelah kenal Tuhan, so what? What’s next?

Mari kita lihat seberapa jauh ekspektasi Tuhan terhadap kita.

a. Hidup yang baik bukan karena kita yang hebat.

Banyak orang berpikir, ikut Yesus atau beragama itu capek. Itu hanya untuk orang-orang “suci”, para introvert yang tidak tahu pergaulan dunia yang sesungguhnya. Tidak mungkin buat anak-anak muda untuk hidup dalam Tuhan, kecuali memang “bakat” orang tersebut menjadi “orang kudus”.

Ayat 3 menyatakan bahwa kita hidup baik hanya karena kekuatan yang sudah diberikan di dalam diri kita. Semua hal yang perlu supaya kita hidup dengan standar nya Tuhan sebenarnya sudah dia kasih karena kita mengenal Dia dan berusaha selalu menjaga hubungan pribadi kita dengan Dia. Di blog #1 saya mengutarakan tujuan hidup yang terutama adalah sebenarnya mencari Dia.

Yoh 15:4

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.

dan Galatia 5 menyatakan kita bisa hidup baik karena buah Roh (bukan buah nya saya) dan karena kita tinggal dalam Dia.

Jadi jelas, kita ngga perlu kecil hati kita masih “gagal” dan tidak perlu sombong kalau kita mrasa sudah “baik”.

b. Pengendalian diri itu proses bukan instan

2 Petrus 1:5 menjelaskan pertumbuhan seseorang merupakan proses. Mungkin dengan bahasa sehari-hari coba saya sederhanakan: setelah percaya Yesus (punya iman), lalu level dua: bertingkah laku yang baik, level tiga: mengenal apa yang benar melalui Firman Tuhan, level keempat: pengendalian diri, level lima: sabar, tekun, dan tabah ikut Tuhan dalam suka dan duka, level keenam: menjaga kekudusan, level tujuh: cinta sesama anak Tuhan, dan level terakhir: mengasihi semua orang.

Jadi jangan bangga kita hafal Firman Tuhan tapi gampang sekali menghakimi sesama dan tidak mau mengampuni. Kita belum mencapai level yang Tuhan mau. Misalnya apakah kita sudah mengasihi orang yang tidak sealiran dan bahkan ‘musuh’ kita. Banyak contoh di sosial media kita gampang untuk menjelek-jelek kan dan membalas mereka. Kita tahu dan yakin bahwa iman kita benar dan baik, tapi kita tentu harus sadar semua orang juga berpandangan hal yang sama terhadap keyakinan mereka. Tuhan mengajarkan kita menahan diri dikala Ia berkata ditampar pipi kiri “kasihlah” pipi kanan.

c. Tanpa pengendalian diri, semua yang kita bangun bisa jatuh.

Ayat 8-10 mengajak kita untuk bekerja keras naik level seperti yang sudah diutarakan di atas. Ketika kita berhenti di tengah jalan, seakan-akan hidup kita jadi malu-maluin pengorbanan Tuhan yang sudah hapus dosa kita. Sekali lagi kita perlu bekerja keras untuk membuktikan ngga sia-sia kita jadi anak Tuhan.

Akhir cerita, belajar mengendalikan diri adalah mengingat bahwa kita bukan hidup sendirian. Sekali lagi, hal ini sangat diuji ketika kita jadi pemimpin atau sedang hidup enak. Misalnya belajar tidak marah-marah pada saat ada kesalahan yang dilakukan orang lain, memilih ngga belanja padahal kepingin banget (meskipun tahu ngga ada budget), milih doa tiap hari dibanding main HP dan FB an tiap malam, milih tetep memberi meskipun duit lagi tekak, milih rendah hati meskipun kita lagi iri hati dan merasa kita lebih baik dari orang lain, dll.

Q3. Apa komitmen kamu untuk naik level dan menguasai diri? Boleh sharing kan cerita sukses atau gagalnya kamu dalam pengendalikan diri.

Go beyond! Not just alive!

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s